Belajar Dari Kematian Mbah Maridjan

“Kenapa mereka tidak ikut turun bersama tim evakuasi? Bukankah masih ada kesempatan bagi mereka untuk hidup sebagaimana pengungsi yang lain? Kalau mereka bertahan di daerah luncuran awan panas lalu meninggal karenanya bukankan itu kematian sia sia? Sudah tau bahaya tetapi tetap saja tidak mau menghindar. Padahal ada waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri” 
Tetapi sudut pandang seorang Mbah Maridjan tentu sangat lain. Beberapa orang yang sempat memahami Mbah Maridjan lebih dalam justru mengatakan, "Mbah Maridjan sampai pada akhir hidupnya dengan cara yang heroik”  Berikut ini hal penting yang perlu kita ingat dari kasus Merapi dan Mbah Maridjan

Kematian Mbah Maridjan bukan kematian heroik. Kematian heroik selalu berhubungan dengan kemanfaatan atau keselamatan orang lain berkat kematian sang hero. Sedangkan Mbah Maridjan mati tidak menyelamatkan siapa siapa, bahkan seandainya dia mau dievakuasi setidaknya beberapa orang yang ikut tinggal dan meninggal dilokasi saat itu juga ikut turun

Kematian heroik dalam tragedi merapi bisa dinisbatkan pada Mbah Maridjan jika memang keberadaan dia di lokasi adalah untuk membantu warganya untuk segera menyelamatkan diri. Tapi yang terjadi malah sebaliknya,..tim evakuasi membujuk dia untuk mengungsi malah ditolak. Jadi kalau mau jernih dalam berpikir,.. tentu yang heroik dan layak dicontoh adalah  orang yang datang ke lokasi untuk mengajak dan membantu warga menyelamatkan diri tapi kemudian meninggal terkena awan panas.

Mbah Maridjan menolak turun dengan alasan ,"Kalau saya turun nanti siapa yang ngurusi daerah sini?" Padahal kalau dia mati seperti sekarang ini malah gak bisa apa apa lagi, jangankan ngurusi daerah, ngurus diri sendiri saja sudah tak akan bisa karena sudah mati. (Lagi pula sebenarnya yang ngurusi daerah situ sebenarnya bukanlah mbah maridjan,... ada mbah maridjan atau tidak,.. daerah itu tetap saja begitu. apakah kalau tak ada mbah maridjan lalu daerah itu tidak keurus?.... tentu tidak kan?

Wedhus Gembel (Awan Panas) Merapi benar benar panas mematikan dan tidak bisa dihadang oleh kekuatan manusia

Mbah Maridjan bukan orang sakti (roso roso) yang bunya kekuatan tawar menawar dengan merapi sebagaimana dipahami oleh beberapa orang

Kata kata “Sakti” itu menyesatkan. Yang dipahami masyarakat sebagai kesaktian hanyalah manipulasi (trik) hukum fisika atau menggunakan bantuan makhluk tak tampak (Jin)

Meskipun demikian baik manusia maupun Jin yang terkuat sekalipun bukanlah tandingan merapi. Jadi kalau ada orang atau jin yang mengaku mampu menjinakkan merapi dapat dipastikan dia berbohong

Upacara adat merapi oleh warga lereng merapi yang ditujukan untuk meminta keselamatan dari bahaya merapi (termasuk yang dilakukan Mbah Maridjan) tidak bermanfaat sedikitpun untuk menyelamatkan mereka dari ancaman merapi. Meski semua kerbau yang ada didunia kepalanya dimasukkan ke kawah merapi, meski semua bunga dan dupa di gelontorkan ke kawah merapi, meski semua dukun yang mengaku sakti dikumpulkan untuk menahan merapi agar tidak meletus,... semua sia sia saja,... karena Merapi adalah milik Allah (Tuhan yang menciptakan alam semesta terrmasuk menciptakan para dukun itu dari setetes air mani)